jump to navigation

Bukan Negeri Sampah, Bukan Bangsa Pengemis November 6, 2009

Posted by Aulia Qiranawangsih in sosial.
Tags: ,
trackback

Tebak, dapat dari mana kata-kata itu? Simpel tapi mengandung makna yang cukup dalam. Percaya atau tidak, kata-kata tersebut adalah sebuah judul film dokumenter yang termasuk salah satu film di Eagle Awards nya MetroTV.

Film dokumenter itu mendokumentasikan suatu usaha sederhana yang sangat luar biasa. Adalah seorang dosen yang begitu peduli terhadap lingkungannya yang mencetuskan ide pendirian sebuah badan yang dinamai Bank Sampah. Konsep yang begitu sederhana. Bank sampah ini menjadi tempat pengumpulan sampah dari warga. Sampah yang dikumpulkan terutama adalah sampah anorganik. Setiap warga yang mengumpulkan sampah dikatakan telah melakukan nabung sampah. Sampah-sampah tersebut kemudian dipilah lalu dijual ke tempat-tempat daur ulang. Dari hasil penjualan tersebut, akan didapat uang yang kemudian akan dikembalikan kepada si”penabung sampah” sesuai dengan banyaknya sampah yang “ditabung”. Semakin banyak sampah yang “ditabung”, semakin banyak uang yang didapat. Sederhana bukan?

Selain itu, ternyata banyak hal positif yang menjadi efek dari adanya Bank Sampah ini. Dari sampah yang tampaknya tidak berguna, warga mampu menghasilkan uang, jadi ada nilai ekonomi yang warga dapatkan. Lalu, dengan adanya Bank Sampah ini, terbentuk juga suatu lapangan kerja bagi warga sekitar. Secara tidak langsung, badan ini juga memberikan pelajaran bagi warga, terutama anak-anak yang memang sudah seharusnya mendapat pengajaran sejak dini mengenai lingkungan.

Ternyata, dimulai dari hal sederhana, simpel, ada hal besar dan berguna yang bisa diwujudkan. Kalau Aa Gym bilang, “Dimulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dari saat ini.” Seperti Pak Habibie bilang juga di Presidential Lecture-nya, “… jangan tunggu nanti, ya dari sekarang tho!” Seperti yang Malcolm Galdwell bilang di Tipping Point-nya, “… hal-hal besar bermula dari hal-hal kecil …” Dan satu lagi, seperti yang Pak Harmein selalu katakan di setiap kuliahnya, “Caranya sederhana sekali sebenarnya, …”

Mungkin kita terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang terlalu jauh untuk dijangkau. Mungkin kita terlalu naif dalam bermimpi. Mungkin kita terlalu jauh dalam bermimpi itu sendiri, karena ternyata bermimpi tanpa beraksi itu tidak berarti. Mungkin terlalu banyak energi yang kita pakai untuk memikirkan diri sendiri. Waktunya introspeksi. Begitu banyak yang bisa kita perbuat untuk orang-orang di sekitar kita. Mungkin kita hanya lupa, semoga segera diingatkan oleh DIA.

Comments»

1. rachmayadi - November 9, 2009

sok atuh bu, dirintis dari sekarang :D

2. adhadi praja - November 13, 2009

bener ul…seribu langkah itu pasti diawali oleh satu langkah

3. fais - November 25, 2009

nice reference…

sya paling suka dng kutipan dari paka Harmein:”Caranya sederhana sekali sebenarnya…”

baru nyadar kLo pak Harmein sering ngomong gitu, sepintas terdengar sederhana makanya cuma lewa begitu saja di telinga. tapi klo ditelaah lebih lanjut ternyata maknanya dalam… :D :D :D