jump to navigation

Made in Indonesia April 2, 2011

Posted by Qirana in sosial.
Tags: , ,
trackback

Suatu siang yang cerah, panas sih sebenernya, entah gimana caranya saya terjebak di tengah obrolan yang bisa dibilang debat kusir. Apa topik pembicaraannya? Tentu saja tentang “negara”. Kenapa debat kusir? Ya karena kita -kami- cuma bisa ngomongin aja, solusinya juga sebatas teori, teori-amat-sangat-mentah. Dari pembicaraan siang itu, satu kalimat dari salah seorang teman membuat saya tertegun. Dia bilang, “Kalo kata gw sih ya, negara ini udah hopeless lah”. Benarkah begitu?

Kenapa dia bisa bilang gitu sementara begitu banyak orang-orang besar mencoba membangun hal-hal yang berisukan “mimpi”? Seperti Anies Baswedan dengan “better light up the candle than curse the darkness“-nya, juga Bondan Prakoso dengan lagu “Hidup Berawal dari Mimpi”-nya. Adakah sebenarnya lilin dan mimpi itu?

Hopeless karena sekarang bahkan beras pun masih terus mengimpor. Hopeless karena saat ini begitu banyak merk kendaraan buatan asing di atas aspal-aspal kita. Hopeless karena saat ini bahkan membuat jembatan pun harus menggunakan metode dan tenaga kerja asing. Hopeless karena puluhan ribu jenius-jenius kita lebih memilih ter-brain drain dan menetap di luar negeri daripada kembali ke negaranya sendiri. Hopeless karena sumber minyak, emas, tembaga, batu bara kita dikuasai pihak asing. Hopeless karena anggota dewan lebih memilih membangun gedung triliunan rupiah daripada menginvestasikannya buat pengembangan industri kerakyatan. Hopeless karena korupsi merajai setiap lapisan kehidupan berbangsa. Hopeless karena harapan-harapan lainnya yang kian redup.

Adalah Mahatma Gandhi yang mengatakan “be the change you want to see in the world“, maka pertanyaannya adalah maukah bangsa ini berubah? Maukah bangsa ini belajar melalui proses, bukan keinstanan? Adakah siswa-siswi sekolah menengah kita mau benar-benar menuntut ilmu daripada serius mabal? Maukah mahasiswa-mahasiswa kita berpikir lebih matang sebelum melakukan unjuk rasa dan protes yang tanpa hasil atau berujung pada bentrokan anarkis?  Maukah para pengajar mengedepankan kepentingan pemenuhan pengetahuan murid-muridnya daripada hanya sekedar angka-angka di atas kertas? Maukah para pemegang kebijakan melihat lebih luas terhadap kekuasaannya masing-masing daripada sekedar tertuju pada setumpuk kekayaan?

Seorang teman lainnya beberapa bulan yang lalu setelah mengetahui saya memilih untuk melanjutkan kuliah S2 di bidang Rekayasa Transportasi tiba-tiba berkata, “Transportasi? Euh, bidang hopeless eta mah.” Saya hanya tersenyum mendengarnya. Benarkah bidang saya segitu ga ada harapannya? Tentu saja tidak. Sangat tidak tidak ada harapan. Bidang saya segitu ruwetnya, segitu acak-acakannya, justru banyak sekali yang bisa di-explore bukan? Karena tentu saja, semua adalah bagian dari proses.

Kembali lagi pada pembicaraan debat kusir beberapa hari yang lalu itu, si teman ini bilang, “Gw tau satu solusinya, satu generasi harus di-skip dulu, harus diilangin, baru kerusakan turun-temurun ini (korupsi) bisa ilang.” Dia yang saat ini memutuskan buat ga berkarya di negara ini yakin bahwa segala hopelessness yang ada ga bisa diatasi dari dalam negeri. Kalo ibaratnya manusia-manusia cerdas dan idealis di negara ini adalah lilin, maka yang harus diterangi adalah seluas Pelabuhan Tanjung Priok yang tanpa penerangan sedikitpun, berada di sisi laut yang ombaknya bisa tiba-tiba menyapu habis api lilin-lilin itu. Hopeless kah?

Mungkin pertanyaan lanjutan untuk tahun-tahun yang akan datang adalah masih pentingkah keberadaan negara ini? Masihkah kita akan melihat emboss “made in Indonesia” atau iklan “buatan Indonesia” (seperti iklan produk Maspion) pada 15 tahun yang akan datang? Mungkin juga timbul pertanyaan akankah saya -kita- merasa bangga menikmati infrastruktur dari dana pinjaman asing sementara kendaraan bermerek negara asing itu juga yang digunakan di atas infrastruktur yang dibangun?  Mungkin secara tidak langsung negara ini memang tengah dijajah: penjajahan dunia perfilman dari Amerika dan Eropa (kalo yang banyak masuk film-film Jepang, mungkin kita jadi gambaru seperti orang-orang Jepang pasca-tsunami, bukan hobi pake kata f***), penjajahan industri (liat aja semua pabrik mobil, motor, alat elektronik yang migrasi ke negara ini sejak bertahun-tahun yang lalu), penjajahan ekonomi (tau lah ya masalah utang-utangan itu yang harusnya bisa dibayar pake deposit di Papua), penjajahan pangan (impor segala macem bahan pangan), dan penjajahan lainnya yang terlalu menyakitkan buat diingat.

Sekali lagi, hopeless kah?

Untuk direnungkan, dipikirkan, lalu ditindaklanjuti. Bukan waktunya masih protes tanpa solusi. Ada baiknya melakukan yang terbaik bukan karena mengejar materi, karena kalau begitu apalah bedanya dengan generasi (yang menurut teman saya) harus dihilangkan itu? Semoga 15 tahun lagi saya -kita- masih melihat label “made in Indonesia” di negara ini.

Comments»

1. ghani - April 2, 2011

keep writing ul…
banyak nulis, banyak yg bisa dibaca orang lain.
jadi banyak referensi buat bertindak dan berpikir lagi.
🙂

Aulia Qiranawangsih - April 8, 2011

siap dan!

2. tiffatora - April 3, 2011

kmrn2 sempet diskusi soal hopelessnya negara kita juga di sini. sy mah bilang sm temen sy gini, ya itu mah generasi sekarang. bentar lagi juga mereka pensiun. nanti giliran generasi kita, insyaAllah jadi lebih baik, asal kitanya istiqamah 🙂

siap atau gak buat istiqamah-nya itu, sekarang tergantung kitanya. ibarat Kotak Pandora, siapa yg tau sisa dalam kotak itu betulan ada Hope atau engga, tapi kan kita percaya. jd selama kita masih percaya, harapannya tetap ada.

aduh maap jadi panjang.
yok ah.

Aulia Qiranawangsih - April 8, 2011

hehe iya bener teh, septujuuuh!
saya juga mikirnya gitu, semoga generasi setelahnya ga kehilangan harapan dan idealisme yang dipunya saat ini. 🙂

3. Prazz - April 6, 2011

nice kakaaaak=)))
orang2 yg ngerasa hopeless itu blum tentu pernah mengalami kegelapan yang sebenarnya. Banyak orang2 yang menderita,tinggal di daerah kumuh,gak punya pendidikan,gak bisa sekolah,tapi paling tidak kita lihat bahwa mereka mau berjuang untuk hidup.
Sekarang,kalo orang terdidik aja bilang negara kita hopeless,ya bubarin aja ni negara,ilangin aja dari mata dunia.
Suatu kaum akan berubah kalo kaum itu sendiri mau berubah kan?semoga kita masih bisa berjuang,sampe kapan pun itu.

Aulia Qiranawangsih - April 8, 2011

haha iyaaa ampuuun bang. 😀
kita selalu didoktrin bahwa perubahan itu dimulai dari hal kecil, tapi apalah artinya kalo hal yang jauh lebih besar terus-terusan menghalangi? Ya, Allah ga akan merubah suatu kaum kalo kaum itu ga berubah, maka sampai kapan kita terus ngarep perubahan kecil akan merubah hal yang jauh lebih besar? *kok gw jadi kaya mendukung revolusi ya :D*
anyway, kadang rasionalitas dan logika emang ga masuk di negara ini ris. hehe.

4. Let’s have a big dream of this “Country of Everything” « blupblupblue - May 23, 2011

[…] this ironical country is just having lack of optimism as I have said in my last post. We have no courage to develop our own ability, to stand in our own feet, even to decide by our own […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: