jump to navigation

Larangan Belok Kiri Langsung June 16, 2011

Posted by Qirana in opinion, review.
Tags: , , ,
trackback

image from detik.com

Akhir-akhir ini sering merasa terganggu dengan bunyi klakson kendaraan di persimpangan ketika lampu lalu lintas berwarna merah, biasanya kendaraan-kendaraan ini ngeributin lajur paling kiri. Misalnya kasusnya begini, kendaraan di lajur paling kiri yang berada paling depan tidak maju melainkan berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Otomatis, refleks pengguna kendaraan lain yang berada di lajur yang sama di belakang kendaraan tersebut akan membunyikan klaksonnya sebagai tanda protes karena akan berbelok ke kiri. Nah, ribut banget kan itu kondisinya?

Di sisi lain, seharusnya keadaan tersebut tidak perlu terjadi. Masyarakat Indonesia sudah sangat familiar dengan istilah peraturan “belok-kiri-jalan-terus” sejak ditetapkannya UU nomor 14 tahun 1992. Tidak banyak masyarakat yang menyadari bahwa peraturan itu sudah tidak berlaku lagi sejak ditetapkannya UU nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-undang nomor 22 tahun 2009 tersebut berbunyi:

Pada persimpangan Jalan yang dilengkapi Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, Pengemudi Kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh Rambu Lalu Lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas.

image from vivanews.com

Peraturan ini dikeluarkan karena (sebut saja masalah klasik) jika diperhatikan semakin lama jumlah kendaraan di perkotaan semakin (sangat) banyak sementara pertumbuhan pembangunan infrastruktur transportasi ya segitu-segitu aja. Dengan pelarangan belok kiri langsung berarti lajur paling kiri tidak lagi dikhususkan untuk kendaraan yang akan belok kiri saja, tetapi juga dapat digunakan oleh kendaraan yang akan lurus. Dengan kata lain (ngomong a la Shinichi Kudo #eaaa #apasih), kapasitas jalan atau lengan di jalur tersebut menjadi lebih besar dibandingkan ketika aturan belok-kiri-jalan-terus-masih berlaku.

Namun demikian, tampaknya tidak semua masyarakat Indonesia paham akan hal ini, terbukti dengan ributnya suara klakson kendaraan yang akan belok kiri di persimpangan saat lampu merah. Mungkin sosialisasinya yang kurang dari pihak penentu kebijakan, mungkin masyarakat yang tidak menganggap ini penting, mungkin juga karena kebiasaan. Tapi secara keseluruhan, penanganan masalah sosial-transportasi memang belum diatasi dengan serius, seserius Densus 88 mengurusi teror bom. Padahal, masalah transportasi juga adalah sebuah bom (waktu).

Comments»

1. anggun - June 17, 2011

hehe kalo tgun suka nyingkatnya bekibolang (belok kiri boleh langsung) 😀

*komen teu penting* 😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: