jump to navigation

Let’s have a big dream of this “Country of Everything” May 23, 2011

Posted by Qirana in cerita, sosial.
Tags: , ,
2 comments

Since 10 to 15 years ago, Indonesia still dealing with the same transportation problem: congestion. In my opinion, this country is a country of everything or in sarcastic language style we can call it a country of irony. The theory will always be written or (at least) spoken, but never be done. What we do is not what we say, vice versa.

When I asked an angkot driver for his opinion, “Why do congestion always happened everyday in our city?” He knew that it was all because too many vehicles operated everyday in the city. Even a high school student must have the same opinion as he was. So how can the government do not see the problem?

In my last course of Transportation Policy, it has been said that this lack of proper transportation facilities in (all around) the country had happened because of the absence of sustainable policy making process. While at the same time, the reasons were always the lack of money. But somehow, in lots of press media, we hear and we see that this country is not that poor. This Transportation Policy course resumed that engineers -as a designer also a planner- will never be succeed even if their design and plan is magnificent because policy decide all what is to be or not to be.

Maybe this ironical country is just having lack of optimism as I have said in my last post. We have no courage to develop our own ability, to stand in our own feet, even to decide by our own needs. You see, even for a very fundamental needs like salt, we still import it from other country. Even to support  a very simple industry, we have no courage.

While other country like China is developing their mass transportation system in electrical buses, we still confuse on deciding “does bus rapid transit implementable in Bandung?”. While Israel and USA are now promoting their flying cars, we still feel happy that our country buy more than 700,000 units of car per year which of course labeled by foreign brands. So let’s jump up our aim. Do not stop by the nearest goals. Let’s have a big dream of this country of everything.

Made in Indonesia April 2, 2011

Posted by Qirana in sosial.
Tags: , ,
7 comments

Suatu siang yang cerah, panas sih sebenernya, entah gimana caranya saya terjebak di tengah obrolan yang bisa dibilang debat kusir. Apa topik pembicaraannya? Tentu saja tentang “negara”. Kenapa debat kusir? Ya karena kita -kami- cuma bisa ngomongin aja, solusinya juga sebatas teori, teori-amat-sangat-mentah. Dari pembicaraan siang itu, satu kalimat dari salah seorang teman membuat saya tertegun. Dia bilang, “Kalo kata gw sih ya, negara ini udah hopeless lah”. Benarkah begitu?

Kenapa dia bisa bilang gitu sementara begitu banyak orang-orang besar mencoba membangun hal-hal yang berisukan “mimpi”? Seperti Anies Baswedan dengan “better light up the candle than curse the darkness“-nya, juga Bondan Prakoso dengan lagu “Hidup Berawal dari Mimpi”-nya. Adakah sebenarnya lilin dan mimpi itu? (more…)

Ga Ngapa-ngapain November 20, 2010

Posted by Qirana in cerita, sosial.
Tags: , ,
6 comments

Adalah sesuatu yang umum di masyarakat mengenai image untuk pegawai negeri sipil alias PNS yang suka pergi belanja di tengah hari kerja, pulang cepat datang terlambat, mengobrol dan merokok saat kerja, serta berbagai kebiasaan lainnya. Namun demikian, saya tidak termasuk orang yang sepenuhnya setuju dengan opini tersebut karena toh kedua orang tua saya juga PNS, dosen dan guru, dan mereka tidak seperti itu. Atas dasar pemahaman itu, saya mengikuti saran kedua orang tua saya untuk ikut tes CPNS sebuah kementerian.

Tahapan untuk mengikuti tes tersebut pertama adalah tahap administrasi, yaitu para peserta diharuskan mengirimkan berkas-berkas yang diperlukan untuk pendaftaran via pos. Kemudian tahap selanjutnya adalah tes tertulis. Sebelum mengikuti tes tertulis ini para peserta diharuskan mengambil kartu peserta di tempat-tempat yang telah ditentukan dan tidak boleh diwakilkan oleh orang lain. Pada tahap ini saya merasa agak aneh karena menurut saya ini sangat tidak efisien. Bayangkan saja, saya yang bertempat tinggal di Bandung harus datang ke Jakarta mengambil kartu tersebut yang hanya menghabiskan waktu kurang dari 10 menit. Sementara perjalanan Bandung-Jakarta sekitar 2,5 jam.

(more…)

Perjalanan-Lintas-Kota August 30, 2010

Posted by Qirana in cerita, sosial.
Tags: ,
3 comments

Hari itu antara sengaja dan ga sengaja saya melakukan trip (bukan trip juga sih, cuma perjalanan biasa, gaya banget kalo disebut trip) dalam kota yang cukup jauh. Sengaja karena saya memang harus pergi ke tempat itu dan ga sengaja karena saya lupa kalau hari itu adalah hari macet se-Bandung Raya dan saya pake angkutan umum.

Saya berangkat jam 13.00 dari rumah orang tua saya yang ada di gunung sana menuju dataran rendah di Kopo (hehe). Perkiraan waktu perjalanan paling lama adalah 2 jam, jadi jam 15.00 udah sampe tujuan. Tapi kenyataaannya wow banget. Saya baru sampe tujuan pukul 16.10. Hari itu hari luar-biasa-super-macet-akibat-weekend-dan-menjelang-lebaran. Rasanya kayak semua orang mau buka bareng, belanja menjelang lebaran, dan jalan-jalan di daerah yang saya lewati di saat yang bersamaan. Seperti biasa, macetnya karena penyebab yang ga jelas, atau disebut juga gridlock dalam bahasa transportasi.

Lalu saya teringat tulisan saya tahun lalu tentang kemacetan, rasanya masih sama-sama aja, bahkan Bandung yang sekarang makin macet. Dulu saya pikir, angkutan umum adalah solusi kemacetan di Bandung tercinta ini, sampai-sampai saya excitedbanget buat ngejadiin itu sebagai topik Tugas Akhir saya (mengalahkan topik analisis simpang Cikapayang-Dago yang sempet kepikiran juga). Namun pada kenyataannya, ternyata solusi itu ga cukup baik. Mental masyarakat kita udah terlanjur menganggap angkutan umum itu ga baik, terlalu banyak negatifnya ketimbang sisi positifnya (ini hasil riset Tugas Akhir saya loh, :D). Jadi kalau mau menarik minat mereka buat naik angkutan umum lagi, butuh lebih dari angkutan umum yang kayak sekarang. (more…)

Biasa Aja June 22, 2010

Posted by Qirana in cerita, sosial.
Tags: , ,
add a comment

“Gimana rasanya?”

“Biasa aja.”

“Wow, kaya gitu dibilang biasa aja.”

“Haha.. emang iya, segalanya di hidup ini jadi kerasa biasa aja pas kita udah ngelewatin.”

Potongan obrolan dengan seorang teman di YM (dengan sedikit penyesuaian) yang menurut saya di umurnya yang cuma beda beberapa bulan lebih tua dari saya udah berhasil mencapai hal yang jauh banget lebih juara daripada yang bisa saya capai hari ini. Sangat super juara. Dan ternyata dia bilang begitu: biasa aja. Sekilas mungkin terasa ada kesan bossy dari kata-katanya. Tapi ada benernya juga kok. Suatu hal ketika masih menjadi harapan, impian, atau cita-cita akan sangat-sangat terasa luar biasa dan berkesan ga mungkin bangetlah.

(more…)

Te-A April 24, 2010

Posted by Qirana in cerita, kuliah, sosial.
Tags: , ,
add a comment

Di tengah-tengah kebingungan nyusun analisisnya si Tugas Akhir, jadi pengen bikin tulisan di sini. Tahukah kalian tema TA saya tentang apa? Well, kalau diliat-liat sekilas, definitely not a civil works. Kalau orang yang bukan dari teknik sipil pasti bakal bilang “Kok sipil ngerjain kaya gitu sih?” Dan saya senyum aja sambil sedikit ngejelasin kalau di teknik sipil itu ada Kelompok Keahlian alias subjur yang namanya Rekayasa Transportasi atau suka disingkat jadi transport aja.

Nah, mau tau TA saya tentang apa?

(more…)

Hubungan antara angkot, becak, dan panti asuhan March 28, 2010

Posted by Qirana in berkata-kata sesuka hati, cerita, sosial.
Tags: , , ,
add a comment

Hari ini setelah sekian lama ngerasain lagi naik angkot yang bukan bertujuan ke kampus. Karena ada janji dengan seorang temen yang alhamdulillah memberi dukungan dalam hal finansial, mau ga mau tentu aja harus dateng (padahal ada hubungan atau ga ada nya sama finansial tetep aja dateng mah harus da janji tea). Janjiannya di suatu tempat makan di sekitar Jalan Progo jam 3 sore.

Rencananya saya mau berangkat jam 14.30 pake motor seperti biasa, tapi eh tapi ternyata dari jam setengah dua hujan terus2an ga berhenti2. Dan awan-awan dilangit pun menunjukkan kalau si hujan mau berlama-lama turun di Bandung tercinta ini. Buat memastikan, saya sms ke orang yang saya tau nge kos di sekitar kampus buat nanya hujan atau ga disana. Dan seperti feeling saya (hujan aja pake feeling2an), ternyata hujan juga di sana. Ya sudah, akhirnya jam 14.20 saya memutuskan berangkat mengangkot.

Sampe di Progo jam 15.03, eh ternyata baru satu orang yang dateng, sama saya jadi berdua. Janjiannya sama banyakan sebenernya, sekitar 8-9 orang gitu. Jadilah nungguin kira-kira hampir satu jam sampe pada ngumpul. Lalu lalalalalalalalala kami membicarakan si urusan sampe jam 18.19. Setelah itu pada bubar, kembali ke habitat masing-masing.
(more…)

Bukan Negeri Sampah, Bukan Bangsa Pengemis November 6, 2009

Posted by Qirana in sosial.
Tags: ,
3 comments

Tebak, dapat dari mana kata-kata itu? Simpel tapi mengandung makna yang cukup dalam. Percaya atau tidak, kata-kata tersebut adalah sebuah judul film dokumenter yang termasuk salah satu film di Eagle Awards nya MetroTV.

Film dokumenter itu mendokumentasikan suatu usaha sederhana yang sangat luar biasa. Adalah seorang dosen yang begitu peduli terhadap lingkungannya yang mencetuskan ide pendirian sebuah badan yang dinamai Bank Sampah. Konsep yang begitu sederhana. Bank sampah ini menjadi tempat pengumpulan sampah dari warga. Sampah yang dikumpulkan terutama adalah sampah anorganik. Setiap warga yang mengumpulkan sampah dikatakan telah melakukan nabung sampah. Sampah-sampah tersebut kemudian dipilah lalu dijual ke tempat-tempat daur ulang. Dari hasil penjualan tersebut, akan didapat uang yang kemudian akan dikembalikan kepada si”penabung sampah” sesuai dengan banyaknya sampah yang “ditabung”. Semakin banyak sampah yang “ditabung”, semakin banyak uang yang didapat. Sederhana bukan?

(more…)